Seminar Kiat Menerbitkan buku bareng penulis terkenal!

June 11th, 2006 by jonru

"Saya punya naskah novel. Gimana ya, cara menerbitkannya?"

"Saya
punya banyak tulisan yang tersebar di berbagai media, milis dan blog.
Mau saya kumpulkan jadi buku. Tapi bagaimana caranya? Siapa yang harus
saya hubungi?"

Apakah Anda juga punya pertanyaan seperti itu? Sampai sekarang masih bingung, belum tahu bagaimana cara menerbitkan buku?

Jangan
khawatir! PenulisLepas.com bekerjasama dengan Bianglala Kreasi Media
(www.bianglalamedia.com) akan menggelar sebuah acara seru:

Seminar Penulisan "Kiat Menulis dan Menerbitkan Buku"
dan Gathering Komunitas PenulisLepas 2006

Siapa pembicaranya?

1. Hernowo
penulis produktif yang terkenal dengan teori "Mengikat Makna"
Beliau akan memaparkan kiat menulis dan menerbitkan buku nonfiksi.

2. Habiburrahman El Shirazy
penulis novel best seller "Ayat Ayat Cinta".
Sebuah bukunya baru-baru ini diangkat jadi sinetron di Trans TV,
berjudul "Di Atas Sajadah Cinta". Penulis yang akrab dipanggil Kang
Abik ini akan bicara tentang cara menulis dan menerbitkan buku fiksi.

3. Joko Mumpuni
direktur penerbit Andi Publisher.
Beliau akan bicara soal prosedur penerbitan buku dari sudut pandang penerbit.

4. Oleh Solihin
penulis buku best seller "Jangan Jadi Bebek", dan

Yudi Pramoko
(penulis yang telah menerbitkan sejumlah buku secara "indie label").

Mereka
berdua akan bicara tentang cara menerbitkan buku secara "indie label".
Apa kiatnya? Apa saja tantangannya? Apa keuntungannya menerbitkan buku
sendiri dibanding menawarkan buku ke penerbit?

5. Fan Fan Darmawan
(Manajer Promosi penerbit DAR! Mizan)
Beliau
akan bicara tentang aspek promosi/marketing pada penerbitan buku, agar
kita bisa menulis buku yang laris manis, dan tahu bagaimana cara yang
efektif untuk mempromosikan buku-buku kita. Beliau juga akan memaparkan
tentang buku-buku apa saja yang diminati oleh pembaca.

Wah, asyik banget, kan?

Info selengkapnya, klik di sini :)

ditunggu ya….

Panitia

Anti Pornografi = Munafik?

January 20th, 2006 by jonru

Salah satu tudingan yang paling menggelikan dari orang2 yang pro
pornografi terhadap orang2 yang anti pornografi adalah; MUNAFIK LU!
Selain itu, masih banyak argumen-argumen lain yang tak kalah lucunya.
Berikut saya sarikan beserta bantahannya. Jika ada teman-teman yang mau menambahkan, dipersilahkan ya….

=============


argumen #01:

Orang yang anti pornografi = munafik
di satu sisi mereka menentang, tapi di belakang diam-diam menikmatinya

jawaban:
para penentang pornografi melakukan aksi kontra seperti itu, bukan
karena mereka tidak suka hal-hal yang berbau sex. Sebagai manusia
normal, tentu saja mereka suka.

Dan justru karena suka itulah mereka menentang pornografi.
Mereka telah tahu dampak buruk pornografi. Mereka tidak mau dampak buruk itu menimpa orang lain.
Karena itulah mereka menentang pornografi

Lagipula, sepertinya istilah "munafik" yang anda gunakan itu tidak
tepat. Mari kita lihat apa pengertian munafik yang sebenarnya:

Berdasarkan ajaran islam, munafik adalah ciri manusia yang tidak taat
beragama, tapi dari luar ia mencoba memunculkan kesan bahwa ia sangat
alim dan ahli ibadah. Ia juga diam-diam memusuhi islam dari dalam.
Inilah pengertian munafik yang sebenarnya.

Berdasarkan ajaran islam, munafik adalah ciri manusia yang tidak taat beragama, tapi dari luar ia mencoba memunculkan kesan bahwa ia sangat alim dan ahli ibadah. Ia juga diam-diam memusuhi islam dari dalam. Inilah pengertian munafik yang sebenarnya.

Tapi kini, istilah munafik malah dilabelkan kepada orang-orang yang menjauhi perbuatan tercela karena diperintahkan Islam untuk menjauhinya, meski mereka sesungguhnya sangat menyukai perbuatan itu.

Jadi Munafiq, bergeser menjadi Orang-orang yang mengingkari nafsu buruk/jahatnyanya, sehingga dinilai tidak jujur pada dirinya sendiri.

Aneh bin ajaib!


argumen #02:


Majalah Playboy tidak sesuai dengan budaya timur

Jawaban:
Alasan ini biasanya dilontarkan oleh sebagian orang yang anti
pornografi. Walau saya sama antinya dengan mereka, saya tidak setuju
dengan alasan ini.
Budaya adalah ciptaan manusia yang akan terus berubah. Mungkin saat ini
majalah playboy tidak sesuai dengan budaya timur. Tapi bagaimana
kondisi 5 tahun lagi? Siapa tahu, majalah yang lebih vulgar dari
Playboy pun sudah dianggap sangat biasa. Tahun 1940-an, orang pacaran
tak berani bergandengan tangan di tempat umum. Tabu. Tapi kini?
Berciuman di depan umum pun sudah biasa.

Budaya, norma masyarakat, dst, tidak bisa dijadikan patokan dalam hal ini.
Kalau mau menentang pornografi, pakailah ajaran agama (islam) sebagai patokannya.
Ajaran islam sangat tegas mengenai hal ini, dan tidak berubah sejak dulu hingga kiamat nanti.


argumen #03:

majalahnya belum terbit, tapi kok sudah ribut duluan?

jawaban:
Memang, pendapat ini ada benarnya. Tapi dalam kasus Playboy, rasanya
tak ada alasan untuk tidak berpolemik. Memang kita belum melihat
bagaimana medianya, karena ia baru akan terbit Maret 2006 nanti.
Mungkin ia akan dikemas secara lebih elegan, lebih berkelas. Mungkin
pula tidak terlalu vulgar.

Tapi terlepas dari itu semua, rasanya tidak mungkin jika Playboy akan
meninggalkan ciri khas mereka yang mengeksploitasi fisik wanita.
Rasanya tidak mungkin jika Playboy Indonesia akan tampil seperti
majalah Gatra atau Sabili. Bagaimana pun kemasannya, ada satu hal yang
rasanya sangat pasti. Playboy Indonesia pastilah tetap berisi
halaman-halaman yang mempertontonkan tubuh wanita yang nyaris tanpa
busana.

Jadi, masih adakah alasan kita untuk tidak berpolemik, walau majalahnya belum terbit?


argumen #04:

Kenapa hanya playboy yang diributkan? Toh, selama ini sudah banyak media sejenis yang bertebaran di mana-mana?

Jawaban:
Anda sepertinya jarang membaca koran atau menonton televisi, ya?
Sudah begitu sering para aktivis anti pornografi melakukan aksi demo.
Mereka menentang hal-hal porno seperti itu. Tapi berhubung sekarang
majalah Playboy sedang naik daun, maka kita mempergunakan kesempatan
ini untuk menentang playboy. Ini hanya masalah momen. Bukan berarti
kami tidak peduli pada media porno lainnya.


argumen #05:

Ini tidak porno, kok. Ini karya seni. Tampilannya elegan dan intelek

Jawaban:
saya mau jawaban jujur dari anda, para pria sekalian.
Ada foto seorang wanita yang sangat seksi dan tanpa busana, dikemas
dengan selera seni yang amat tinggi, bahkan terkesan amat elegan dan
berkelas. Apakah kemasan seperti ini berhasil menghilangkan nafsu
birahi anda ketika melihat tubuh si wanita?
Kalau jawaban anda Ya, okelah. Argumen anda saya terima
Kalau jawaban anda Tidak, maka argumen anda akan saya tertawakan!

Ketahuilai, kemasan yang elit, elegan, dan bercita rasa seni tersebut,
hanyalah salah satu upaya untuk menutupi "perasaan bersalah" yang
muncul di dasar hati setiap orang yang terlibat di pengelolaan media
pornografi.


argumen #06:

Kalau mau menentang Playboy, berantas dulu majalah2 porno yang sudah banyak beredar di Indoensia. Juga VCD porno dan sebagainya.

Jawaban:
Inilah strategi mengelak yang amat menggelikan.
kalao kita berteriak "kami anti playboy" maka mereka berkata, "kenapa anda tidak melarang vcd porno yang duluan ada?

kalau kita berteiak "basmi vcd porno", maka mereka berkata, "kenapa anda tidak melarang majalah popular yang telah dulu ada?"

kalau kita berteriak "breidel majalah popular", maka mereka berkata, "kenapa anda tidak melarang bla bla bla…"

demikian seterusnya.

Ini benar-benar argumen yang tidak mutu!

Lagipula, argumen seperti ini seolah2 menuding para anti pornografi
sebagai pihak yang memberikan iklim yang kondusif terhadap maraknya
pornografi. Kalimat "berantas dulu VCD porno" dan sebagainya,
sepertinya memperlihatkan bahwa mereka sedang lupa satu hal: Yang
seharusnya memberantas hal-hal seperti itu adalah pihak kepolisian, dan
pemerintah.

Nanti kalau ada kelompok anti yang melakukannya secara
sepihak, misalnya FPI, anda langsung mencibir lagi. Hehehehehe. Serba
salah deh, anda ini!


argumen #07:

Anda bilang, pornografi itu meresahkan masyarakat. Masyarakat yang
mana? Toh faktanya, orang yang suka pada majalah porno jumlahnya jauh
lebih besar.

jawaban:
Jika ada 10 orang yang berkumpul, dai 9 di antara mereka mengatakan 1 +
1 = 3, sedangkan yang satu orang mengatakan 1  + 1 = 2, siapakah
yang benar? Kalau anda mengatakan "jumlah orang yang doyan majalah
porno jauh lebih besar", maka anda termasuk orang yang setuju bahwa 1 +
1 = 3. Anda hanya melihat kebenaran berdasarkan suara terbanyak.
Padahal suara terbanyak belum tentu benar.


argumen #08:

Itu semua tergantung moral orangnya, kok. Kalau otaknya udah ngeres,
lihat kambing aja bisa langsung birahi. Apalagi lihat majalah porno.

Jawaban:
Sepertinya kita terbiasa untuk melihat masalah secara tidak
proporsional. Ada wanita yang berpakaian seksi dan mencoba menggoda
pria lewat penampilannya yang merangsang itu. Dan ketika ada pria yang
mengusilinya, kita semua menyalahkan si pria. Sedangkan si wanita kita
sebut sebagai orang modern karena penampilannya mengikuti perkembangan
jaman.

Kita hanya terbiasa menyalahkan orang yang terjebak melakukan
kesalahan. Ini benar-benar tidak adil. Seharusnya, kedua pihak harus
disalahkan. Si penggoda salah, di tergoda juga salah.

Jadi ketika ada orang yang berpikiran mesum setelah membaca playboy,
apakah kita hanya menyalahkan orang tersebut dan tidak menyalahkan
playboy?

Hihihi.. betapa tidak adilnya dunia ini!


argumen #09:

di negara-negara yang sangat permisif terhadap pornografi, kehidupan mereka normal2 saja kok

jawaban:
Negara mana yang anda maksud? Amerika?
Coba tengoklah lebih dekat. Budaya kumpul kebo di sana telah membuat
tatanan kehidupan mereka hancur lebur. Banyak anak yang tidak tahu
siapa orang tuanya. Banyak orang yang kesepian karena tidak punya
pasangan hidup yang setia. Mereka sepertinya baik-baik saja. Tapi coba
anda simak kehidupan mereka lebih dekat. Janganlah anda terbuai oleh
indahnya film2 holllywod.


argumen #10:

playboy dan majalah porno lainnya hanya untuk konsumsi 21 tahun ke atas.

jawaban:
oh, apakah ini berarti: hanya orang yang berusia di bawah 21 tahun yang
akan dikenai dosa jika membaca media porno? Apakah orang yang berusia
21 tahun ke atas bebas dari dosa2 seperti itu?


argumen #11:

Masalah dosa dan agama, itu urusan pribadi masing-masing. Jangan
bawa-bawa agama dalam hal ini. Lagipula, yang menentukan dosa itu kan
Tuhan, bukan kamu.

jawaban:
Kalau agama adalah urusan pribadi masing-masing, kenapa harus ada ulama atau ustadz?
Apakah salah jika kita menasehati orang lain untuk berbuat baik dan meninggalkan hal-hal yang tidak baik?
Kalau anda berkata itu tidak baik, maka anda lebih baik kembali ke masa
SD dan memarahi para guru anda yang telah memberikan anda pelajaran
budi pekerti dan sebagainya.

Dalam konteks tertentu, agama memang urusan pribadi. Tapi setiap
penganut agama juga berkewajiba untuk saling mengingatkan dengan
saudara2nya yang lain.

Soal dosa, memang itu ditentukan oleh Tuhan. Tapi Tuhan juga telah
memberikan penjelasan lewat kitab suci bahwa pornografi itu dosa.
Apakah ini belum jelas bagi anda?


argumen #12
batasan porno itu kan relatif!

jawaban:
Kalau anda seorang muslim, coba anda baca Al Quran. Di sana sudah
dijelaskan dengan amat tegas mengenai aurat dan sebagainya.


argumen #13

Sudahlah, biarkan saja pornografi beredar. Yang penting kita bisa mengendalikan diri, tidak ikutan menikmati!


Dari segi pribadi, anda benar. Tapi apakah anda tidak peduli pada masyarakat umum yang tidak bisa mengendalikan diri?
Atau jika anda tidak peduli pada mereka, apakah anda tidak peduli pada anak, ponakan, dan saudara-saudara anda lainnya? Apakah anda yakin, mereka juga bisa mengendalikan diri seperti anda?


argumen #14

Jangan membawa-bawa agama dalam hal ini.

Jawaban:
Anda beragama islam?
Jika ya, coba (sekali lagi) baca Al Quran.  Islam sama sekali tidak mengenal konsep sekularisme, yang memisahkan urusan agama dengan urusan duniawi. Salah satu ayat Al Quran berbunyi, "Masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah."

Arti dari kaffah adalah "keseluruhan". kalau kita masuk ke dalam lobang tapi ujung rambut kita masih kelihatan, maka kita belum "kaffah". Ketika kita masuk dan tak ada lagi bagian dari tubuh kita yang terlihat dari luar (walau hanya bagian yang paling kecil sekali pun), maka itulah yang disebut sebagai kaffah.

Kalau kita masih menggunakan sistem nilai lain (selain islam) dalam memkitang pornografi, maka kita belum kaffah dalam berislam. Artinya, kita belum mentaati bunyi ayat Al Quran di atas.

Wah.

March 22nd, 2005 by jonru

Wah… asyik…
Friendster sekarang punya blog!
Asyik juga nih buat dicoba-coba :)